Di Tengah Gempuran Modernisasi, Abang None Jakarta Bangkit Jaga Warisan Betawi di Lebaran 2026
Di saat banyak tradisi lokal perlahan tergerus zaman, Lebaran Betawi 2026 hadir sebagai bukti bahwa budaya Betawi masih berdenyut kuat di jantung ibu kota. Lapangan Banteng, Jakarta, pada Ahad 12 April lalu berubah menjadi lautan warna dipenuhi warga yang datang bukan hanya untuk merayakan, tetapi juga untuk mengingat siapa mereka.
Diselenggarakan oleh Badan Musyawarah Betawi (Bamus) bersama Pemprov DKI Jakarta, Lebaran Betawi 2026 hadir bukan sekadar festival budaya tahunan biasa. Ini adalah ruang temu antargenerasi, antarwilayah, dan antarnilai yang mempertemukan tokoh dan masyarakat Betawi dari seluruh Jabodetabek dalam satu semangat: menjaga agar warisan leluhur tidak mati di tangan generasi penerus.
Syifa Khaira: Lebaran Betawi, Lebih dari Sekadar Perayaan
Hadir mewakili wajah muda Jakarta, None Syifa Khaira Abang None Jakarta Timur menyampaikan kesan yang dalam atas gelaran tahun ini. Baginya, Lebaran Betawi bukan sekadar festival yang datang dan pergi. Ini adalah momen pemulihan silaturahmi yang sifatnya jauh lebih personal.
"Lebaran Betawi 2026 ini tujuannya untuk menjalin silaturahmi kembali. Budaya Betawi memang lebarannya berlangsung berhari-hari, karena masyarakatnya cenderung berkumpul di satu daerah bersama keluarga dan saudara. Tujuannya adalah menjalin silaturahmi antar seluruh warga Jakarta sekaligus mengingat budaya kita, mulai dari rumah adat hingga baju adat," ujar Syifa yang dikutip dari nu online.
Ia menekankan bahwa kekayaan budaya Betawi dari arsitektur rumah adat hingga corak pakaian tradisional adalah identitas yang wajib dijaga, bukan hanya dibanggakan di atas panggung seremonial. Anak muda Jakarta, menurutnya, punya tanggung jawab besar dalam memastikan identitas itu tetap hidup dan relevan.
David Rahman: Tradisi Betawi Harus Sampai ke Anak Cucu
Senada namun dengan nada yang lebih tegas, Abang David Rahman membawa pesan yang langsung menohok: muruah tradisi Betawi harus dijaga, bukan hanya dilestarikan secara simbolik.
"Tradisi Betawi merupakan tradisi yang perlu dijaga muruahnya dan terus dilestarikan hingga ke anak cucu. Kami menyarankan anak muda, khususnya di Jakarta Timur, untuk menjunjung tradisi kita sekaligus nilai moral yang terkandung di dalamnya," tegasnya.
Bagi David, pelestarian budaya bukan urusan orang tua atau pemerintah semata. Generasi muda adalah pemegang tongkat estafet yang sesungguhnya. Dan tongkat itu hanya bisa dipegang dengan kuat jika ada silaturahmi yang terjaga, kolaborasi yang hidup, dan kebanggaan yang tidak pernah padam.
"Pesan untuk generasi muda agar terus melestarikan Lebaran Betawi adalah menjaga silaturahmi satu sama lain demi kolaborasi, demi Jakarta yang penuh inovasi," katanya.
Bamus Betawi: Dari Lenong hingga Karnaval, Semua Ada
Di balik meriah dan padatnya acara, Rendra Yuniardi, Wakil Sekretaris Jenderal Bamus Betawi, menjelaskan bahwa Lebaran Betawi sejatinya dibangun di atas satu fondasi utama: silaturahmi.
"Konsepnya, orang Betawi itu menjaga silaturahim. Lebaran Betawi menjadi ajang mempertemukan tokoh-tokoh Betawi dengan masyarakat Jabodetabek, agar mereka bisa saling bersilaturahmi, bertemu, bertatap muka, dan berlebaran bersama di sini," jelas Rendra.
Tahun ini, panggung Lebaran Betawi dimeriahkan oleh beragam pertunjukan seni tradisional yang kaya dari lenong dan tanjidor, hingga cerita rakyat, permainan tradisional, dan karnaval festival kaum Betawi yang memukau. Setiap penampilan bukan hanya hiburan, tetapi juga narasi hidup tentang siapa orang Betawi dan dari mana mereka berasal.
"Mulai dari kesenian, band-band Betawi, cerita rakyat, hingga para seniman tampil. Ada lenong, tanjidor, permainan tradisional, sampai karnaval festival kaum Betawi," ungkap Rendra.
Ia pun menutup dengan harapan yang sederhana namun penuh makna: agar Lebaran Betawi terus digelar setiap tahun, semakin meriah, dan semakin banyak yang terlibat. "Acara berikutnya kita berharap bisa terus diselenggarakan, biar lebih baik lagi, biar lebih semarak lagi," pungkasnya.
Jakarta Inovatif, Betawi Tetap di Hati
Di tengah derasnya arus modernisasi yang terus mengubah wajah Jakarta, Lebaran Betawi 2026 menjadi pengingat bahwa sebuah kota besar tidak harus kehilangan akarnya. Justru kekuatan Jakarta sebagai kota global terletak pada kemampuannya merangkul masa depan tanpa meninggalkan masa lalu.
Abang None Jakarta Timur, Syifa dan David, hadir sebagai simbol dari generasi muda yang tidak hanya mewarisi tradisi tetapi aktif memilih untuk menjaganya. Dan selama semangat itu ada, budaya Betawi tidak akan pernah benar-benar pergi.
Yuk ikuti terus perkembangan paling up to date seputar pageant Indonesia dan internasional hanya di sini
Baca Juga
Road to the Crown Dimulai! Miss Universe 2026 Resmi Umumkan Jadwal Final dan Rangkaian Agenda Utama
Supramodel of the Year Miss Supranational 2026, Deretan Finalis Favorit Tampil Memukau
Ksatria Fest 3.0 Satukan Tradisi dan Kreativitas Lewat Konsep TradiPop, Dukungan Publik Bersama Kreen Indonesia Voting Digital Terpercaya