Rumah Adat Khas Aceh yang Penuh Makna
Aceh dikenal dengan warisan kebudayaannya yang sangat kaya. Salah satunya adalah rumah adat khas Aceh yang disebut dengan Rumoh Aceh, Krong Bade, Rumah Santeut, atau Rumah Rangkang. Pada buku yang berjudul Arsitektur Rumah Tradisional Aceh karya Herman R.N. (2018), Rumoh Aceh diambil dari rumoh yang memiliki arti rumah, dan kata Aceh yang berarti Aceh. Di mana, rumah ini merupakan identitas sekaligus gambaran dari kehidupan masyarakat Aceh.
Rumah yang dibuat sebagai rumah panggung ini, memiliki jarak antara lantai dan rumah yang mencapai 2,5 meter. Hal ini karena, jarak tersebut akan menciptakan ruang bawah yang biasa digunakan masyarakat Aceh untuk tempat rehat, bermain, menyimpan hasil tani dan laut, menumbuk beras, serta ruang bagi perempuan Aceh untuk membuat kain tradisional khas Aceh. Selain itu, rumah panggung Aceh ini juga berfungsi sebagai langkah preventif terhadap serangan hewan buas maupun banjir yang datang secara tiba-tiba.
Rumoh Aceh juga memiliki 3 ruang lainnya, yaitu Seuramoe Keue yang merupakan ruangan depan yang berfungsi sebagai tempat menerima tamu, bersantai, dan beristirahat bagi penghuni rumah. Kedua, ruang Seuramoe Teungoh yang merupakan bagian inti dari Rumoh Aceh yang dapat dilihat dari ketinggian lantainya yang lebih tinggi. Ruangan ini sangat privat dan hanya penghuni rumah saja yang boleh memasukinya. Ruangan Seuramoe Teungoh terdiri dari kamar tidur keluarga, kamar pengantin, dan ruang pemandian mayat ketika ada anggota keluarga yang meninggal dunia. Lalu yang ketiga, ruang Seurameo Likot yang berfungsi sebagai tempat makan, dapur, dan tempat bercengkerama dengan sesama anggota keluarga, di mana ruangan ini memiliki ketinggian lantai yang lebih rendah.
Atap Rumoh Aceh yang berbentuk segitiga atau disebut dengan bubong, dengan menghadap ke arah timur dan barat, selain bertujuan sebagai arah kiblat untuk salat, tetapi juga untuk melindungi bangunan rumah dari angin badai yang sering kali datang dari dua arah tersebut. Ukiran yang terdapat di dinding Rumoh Aceh pun selain sebagai nilai estetika, juga memiliki makna tersendiri bagi masyarakat Aceh. Khususnya dalam hal status sosial dari penghuni rumah. Di mana, jumlah dan banyaknya ukiran pada Rumoh Aceh ini menentukan kemampuan ekonomi dari penghuni rumah tersebut.
Ketika kamu ingin memasuki Rumoh Aceh ini, maka kamu akan menginjakkan kaki di anak tangga yang berjumlah ganjil. Anak tangga yang berjumlah ganjil tersebut menjadi simbol sifat religius dari masyarakat Suku Aceh. Dan sebelum kamu memasuki rumah adat ini, kamu diharuskan membersihkan kaki di tempat yang sudah disediakan, di mana terdapat gentong air di bagian depan Rumoh Aceh. Membersihkan kaki ini memiliki makna bahwa setiap tamu yang datang harus mempunyai niat baik. Selain itu, ukuran pintu yang lebih kecil dari rata-rata tinggi manusia, juga bertujuan agar setiap tamu yang datang harus memberi saleum horeumat pada ahli bait (salam hormat kepada pemilik rumah) dengan membungkuk sebelum memasuki rumah tanpa mengenal kasta dan kelas ekonomi dari tamu tersebut.
Karena Aceh rawan akan bencana alam, seperti tsunami dan gempa bumi, Rumoh Aceh pun dibangun tanpa menggunakan paku, melainkan menggunakan teknik sambungan pengikat yang jauh lebih fleksibel dan aman dari guncangan gempa, seperti rotan, tali ijuk, dan juga kulit pohon waru. Oleh karenanya, Rumoh Aceh pun dikenal sebagai rumah anti gempa.
Rumah memang tidak hanya sebagai tempat untuk berlindung bagi penghuninya, tapi juga menjadi identitas terlebih jika rumah tersebut adalah rumah adat yang penuh akan makna. Seperti halnya Rumoh Aceh ini, di mana setiap sudut bangunannya memiliki makna tersendiri yang baik untuk dijalankan bagi penghuninya ataupun para tamu. Oleh sebab itu, patuhilah adat setiap rumah yang ingin kamu kunjungi. Tamu adalah raja, dan seorang raja harus patuh terhadap aturan dan memberi contoh yang baik kepada orang lain. Ingat pesan MinDest juga ya, untuk download aplikasi KREEN di Play Store!
Source:
bobo.grid.id
m.dekoruma.com
indonesiakaya.com
id.pinterest.com