Qonitah Ikhtiar Syakuroh: Dari Raket Rp40 Ribu Hingga Jadi Peraih Emas Para Badminton Indonesia
Sumber: goodnewsfromindonesia.id
Qonitah Ikhtiar Syakuroh: Dari Raket Rp40 Ribu dan Ejekan Cara Berjalan, Jadi Penderes Emas Para Badminton Indonesia
Ada yang bilang nama adalah doa. Bagi Qonitah Ikhtiar Syakuroh, nama itu seolah benar-benar menjadi takdir.
Qonitah berarti taat, ikhtiar berarti upaya keras, dan syakuroh bermakna perempuan yang selalu bersyukur. Tiga kata dalam bahasa Arab itu bukan sekadar rangkaian huruf, melainkan cerminan nyata dari perjalanan hidup perempuan berbakat asal perbukitan Menoreh, Kulon Progo, Yogyakarta itu.
Lahir dengan Kaki Pengkor, Tumbuh di Antara Ejekan
Qonitah lahir di Pedukuhan Soropati, Kalurahan Hargotirto, Kapanewon Kokap, Kulon Progo, Yogyakarta. Ia lahir dengan kondisi Congenital Talipes Equinovarus (CTEV), kelainan bawaan yang menyebabkan posisi kaki mengarah ke dalam dan ke bawah sejak lahir, atau yang dikenal sebagai "kaki pengkor".
Kondisi tersebut membuat kedua telapak kaki Qonitah tidak menghadap lurus ke depan dengan sempurna. Sulit baginya untuk melangkah maju, mundur, atau menyamping, bahkan kedua kakinya bisa saling bertubrukan saat berjalan.
Di masa TK dan SD, cara berjalannya kerap menjadi bahan olok-olokan. Setiap kali menerima ejekan, entah di sekolah maupun saat bermain, Qonitah kecil selalu pulang dengan tangis yang ditahan. Beruntung, orang tuanya hadir dengan kesabaran berlapis, selalu melapangkan hati sang anak.
Nyasar ke Cabor Lari, Menemukan Jati Diri di Bulu Tangkis
Ejekan perlahan berkurang saat Qonitah masuk SMP Negeri 2 Kokap, Kulon Progo. Di sanalah jalan menuju para-badminton mulai terbuka, meski awalnya tak ia sadari.
Sekitar 2015, guru Qonitah memiliki kenalan di NPC Kulon Progo yang sedang mencari atlet untuk event pelajar. Qonitah pun ditawari, namun justru ditempatkan di cabang lari 100 meter. Ia tidak lolos seleksi karena tak mampu bersaing dengan pelari lain, kondisi CTEV-nya memang menjadi kendala nyata di lintasan.
Namun gagal di satu pintu justru membuka pintu lain. Qonitah kemudian ditawari mengikuti seleksi para-badminton. Entah mengapa, ia merasa yakin bisa. Dan ternyata ia lolos. Raket pertamanya seharga Rp40 ribu dibelikan orang tuanya, sementara anak-anak lain datang dengan raket ratusan ribu rupiah. Rasa minder sempat hinggap, tapi sekolahnya meminjami raket yang lebih layak, dan Qonitah pun melangkah maju.
Liliyana Natsir adalah pebulu tangkis idolanya. Sejak itulah, Qonitah serius mendalami para badminton dengan penuh dedikasi.
Dari Peparnas Papua Hingga Panggung Internasional
Prestasi Qonitah melejit cepat. Saat Pekan Paralimpik Nasional (Peparnas) digelar di Papua pada 2021, ia mempersembahkan medali emas bagi DIY. Pencapaian itu langsung mengantarnya masuk Pelatnas ASEAN Para Games 2022.
Di ASEAN Para Games 2022 Solo, Qonitah menorehkan medali emas di nomor ganda putri bersama rekannya, Warining Rahayu asal Bandung. Sejak saat itu, ia terus dipercaya tampil di berbagai kejuaraan bergengsi.
Perjalanannya terus menanjak dari Kejuaraan Asia, Asian Para Games, Kejuaraan Dunia, hingga Paralimpiade. Semua level ia jajaki, dan medali-medali terus berdatangan.
Di September 2025, Qonitah menambah koleksi dengan meraih medali perunggu nomor tunggal putri dan perak nomor ganda putri di YONEX China Para Badminton International 2025. Lalu di Polytron Indonesia Para Badminton International 2025 Solo, ia dikukuhkan sebagai juara 1 tunggal putri setelah berbalik unggul dari posisi tertinggal di set pertama, lalu lawannya dari Nigeria, Meriam Eniola Bolaji, memilih mundur karena cedera saat skor sudah 20-16 untuk keunggulan Qonitah.
Emas ASEAN Para Games 2025: Dominan Tanpa Kompromi
Puncak terbaru dari perjalanan gemilang Qonitah hadir di Thailand. Di ASEAN Para Games 2025 yang berlangsung di SPADT Indoor Stadium, Nakhon Ratchasima, Thailand, pada 24 Januari 2026, Qonitah tampil di final nomor Women's Singles SL3 melawan wakil Malaysia, Siti Maisarah. Hasilnya, Qonitah tampil dominan total dengan skor 21-10 dan 21-6.
"Alhamdulillah tadi melawan Malaysia bisa bermain cukup baik hingga bisa meraih hasil maksimal medali emas sebagai target individu saya," ujar Qonitah.
Keberhasilan ini menjadi bukti bahwa Qonitah tidak pernah menganggap remeh lawan, justru sebaliknya. "Itu juga pertama kalinya saya bertemu dengan wakil Malaysia. Sepertinya wajib diwaspadai karena masih muda juga. Intinya saya berusaha bermain fokus saja," paparnya.
Berangkat Pagi dari Kulon Progo, Pulang Membawa Emas untuk Bangsa
Di balik semua medali, ada rutinitas yang jarang tersorot kamera. Hampir setiap hari, saat mentari pagi baru menyapa, Qonitah mengendarai sepeda motornya sendiri dari Kulon Progo menuju Bantul untuk berlatih. Kadang pikirannya bergelayut soal keinginan membantu orang tuanya yang bekerja sebagai penderes nira dan perajin gula kelapa di Bukit Menoreh, kawasan perbukitan di perbatasan DIY dan Jawa Tengah.
Sementara orang tuanya sibuk mengolah nira menjadi gula yang manis, Qonitah pun memetik hasil perjuangannya sendiri yang tak kalah manisnya. Dari penghasilannya sebagai atlet, ia memanfaatkannya secara produktif, termasuk membuka usaha sendiri.
"Bulu tangkis alhamdulillah mengubah banyak hal dalam hidup saya dari ekonomi dan sudut pandang orang lain terhadap saya," pungkasnya dengan senyum kalem, medali emas terkalung di lehernya.
Jika orang tuanya adalah penderes nira, maka Qonitah Ikhtiar Syakuroh adalah penderes emas, yang lahir dari keterbatasan, dibesarkan oleh ketekunan, dan kini berdiri di puncak para badminton dunia.
Ikuti terus update seputar dunia sport di sini!
Baca Juga
NPC Indonesia Sambut Positif Kehadiran Kategori Disabilitas di Kapolri Cup 2026
Indonesia Raih 16 Medali di World Para Athletics Grand Prix 2026
Yovan Rate Azis: Atlet Brebes Yang Sukses Raih Emas Para Judo di ASEAN Para Games 2025