8 Tradisi Unik di Pulau Sumba Ini Membuatmu Terheran-heran
Sumba adalah salah satu pulau yang terletak di bagian selatan Indonesia yang sangat terkenal akan keindahan alam, adat istiadat, serta budayanya. Tak heran, keindahan alam dan tradisi yang masih sangat kental menjadikan pulau yang terletak di Provinsi Nusa Tenggara Timur ini menjadi target para wisatawan, baik wisatawan domestik bahkan mancanegara.
Berikut 8 tradisi unik di Pulau Sumba yang akan membuat SoDestKreen terheran-heran jika berkunjung ke Pulau Sandlewood ini:
-
Tradisi Cium Hidung
Tradisi cium hidung atau pudduk dalam bahasa Sumba Timur adalah tradisi yang sudah diwariskan turun-temurun oleh leluhur masyarakat Sumba. Di mana, tradisi ini lazim dilakukan di bandara, baik laki-laki dengan perempuan ataupun sesama jenis, ketika akan bepergian dan mengharuskannya meninggalkan sanak keluarga, cium hidung inilah sebagai bentuk salam selamat tinggal.
-
Tradisi Makan Sirih Pinang
Bagi masyarakat Sumba, Tradisi Makan Sirih Pinang atau dalam bahasa Sumba Timur, yaitu happa, merupakan lambang kekerabatan dalam pergaulan sehari-hari bahkan dalam berbagai acara, seperti perkawinan dan kematian serta acara lainnya.
-
Tradisi Nyale dan Pasola
Tradisi Nyale atau mencari cacing laut adalah tradisi yang wajib dilakukan untuk mendahului Tradisi Pasola atau sebagai pembukaan. Tradisi Nyale merupakan salah satu upacara rasa syukur atas anugerah yang didapatkan, yang ditandai dengan datangnya musim panen dan cacing laut yang melimpah di pinggir pantai. Tradisi ini dilaksanakan pada waktu bulan purnama, di mana cacing-cacing laut atau nyale keluar di tepi pantai. Bila nyale tersebut gemuk, sehat, dan berwarna-warni, maka pertanda kebaikan dan keberhasilan dalam panen di tahun tersebut. Sebaliknya, bila nyale kurus dan rapuh, maka akan mendapat malapetaka.
Barulah setelah selesai menjalankan tradisi berburu nyale, keesokan harinya akan diadakan Tradisi Pasola, yaitu atraksi menunggang kuda dengan saling melempar tombak antar dua kelompok yang berlawanan.
-
Tradisi Belis (Mahar)
Tradisi Belis merupakan tradisi penyerahan mas kawin oleh pihak pria kepada pihak wanita, atau disebut dengan “Mahar”. Belis dalam adat masyarakat Sumba bisa berupa hewan ternak, seperti kuda dan kerbau. Besarnya Belis seorang wanita Sumba biasanya tergantung kesepakatan antara kedua belah pihak. Jika yang dinikahi adaah wanita dengan status sosial tinggi, maka hewan yang diberikan bisa mencapai 30 ekor. Sedangkan, untuk masyarakat biasa sekitar 5-15 ekor, dan untuk golongan masyarakat ke bawah (disebut dengan hamba atau ata) akan dibayar oleh tuan (disebut maramba) mereka.
-
Tradisi Upacara Kematian
Upacara kematian di Pulau Sumba masih berpegang pada kepercayaan nenek moyang atau dikenal dengan “Marapu”. Tradisi upacara kematian marapu ini dapat memakan biaya yang sangat mahal, karena dibutuhkan banyak hewan ternak untuk disembelih selama prosesi berlangsung, seperti babi, kuda, atau kerbau.
-
Tradisi Tarik Batu Kubur
Tradisi tarik batu kubur merupakan proses penarikan kubur batu dari tempat asal menuju lokasi baru, di mana pada masa lalu, tarik batu masih dilakukan sepenuhnya dengan tangan. Ratusan atau bahkan ribuan orang bergotong royong menarik batu yang beratnya bisa mencapai puluhan ton. Namun, seiring perkembangan zaman, tradisi tarik batu menggunakan tangan mulai ditinggalkan. Masyarakat Sumba saat ini lebih memilih menggunakan alat berat seperti truk atau ekskavator untuk menarik batu kubur dari tempat asal menuju perkampungan.
-
Tradisi Perkawinan Sepupu
Sesuai dengan namanya, tradisi perkawinan sepupu, yaitu tradisi perkawinan sedarah antara anak om dan anak tante yang sangat dianjurkan. Di mana, tradisi ini dipercaya dapat emmbuat hubungan kekeluargaan akan semakin erat. Walaupun tradisi ini sangat lumrah di Pulau Sumba, namun perkawinan sedarah ini bukanlah sebuah keharusan atau kewajiban bagi semua masyarakat Sumba.
-
Tradisi Kedde
Tradisi Kedde adalah sebuah tradisi masyarakat untuk mengajak dan mengundang sanak keluarga terdekat yang memiliki hubungan darah untuk membawa hewan kurban, seperti kerbau, kuda, atau babi, yang bertujuan untuk membantu keluarga yang sedang berduka dalam menyukseskan acara adat tersebut. Hewan yang dibawa pun juga menjadi sebuah simbol dari derajat orang yang membawanya, di mana semakin besar hewan tersebut, maka semakin terangkat pula derajat orang yang membawanya.
Gimana, SoDest, apakah 8 tradisi di Pulau Sumba ini membuatmu terheran-heran? Walaupun merasa heran, tapi itulah tradisi yang harus kita lestarikan, SoDest. Jadi, tunggu artikel selanjutnya tentang hal unik lainnya di Indonesia ya, dan jangan lupa untuk download aplikasi KREEN di Play Store, atau klik link di bawah ini …
https://play.google.com/store/apps/details?id=id.kreen.android.app
Source:
antarafoto.com
indonesia.go.id
tripsumba.com
timesindonesia.co.id
mediaindonesia.com
travel.kompas.com
idntimes.com
Presentation of webinar Kreen Destination Series: Yudi (Kepala Bidang Pariwisata Sumba Timur), Yulius Adi Papa (Founder Galeri Sumba), dan My Sumba Tour
Writer: Istiana Fauzi
Baca Juga
Indonesia Comic Con Mempersembahkan Indonesia Anime Con (INACON) sebagai Perayaan Budaya Pop Asia Terbesar di Indonesia
Prediksi Tren Wisata Tahun 2022: Wellness Tourism Hingga Workcation
Destinasi Wisata Favoritmu Bisa Menjadi Ciri Kepribadianmu