7 Tari Tradisional Sulawesi Tenggara Ini Harus Dilestarikan
Tari tradisional merupakan tarian yang sejak dahulu sudah menjadi identitas suatu daerah, salah satunya adalah Sulawesi Tenggara. Di salah satu provinsi di Pulau Sulawesi ini, penulis merangkum 7 tari tradisional yang harus dilestarikan, tidak hanya masyarakat di daerah tersebut, tapi juga kita sebagai bagian dari masyarakat Indonesia.
Inilah 7 tari tradisional di Sulawesi Tenggara yang harus dilestarikan:
- Tari Balumpa
Tari Balumpa berasal dari Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara, yang menggambarkan kegembiraan masyarakat nelayan di Pulau Binongko. Sebagai tari penyambut para tamu terhormat, gerakan tari Balumpa mengandung makna rasa gembira,kelemahlembutan, dan keramahtamahan. Tarian ini ditarikan oleh 6-8 penari perempuan, namun ada juga yang ditarikan secara berpasangan, perempuan dan laki-laki.
- Tari Malulo
Tari Malulo atau juga disebut dengan tari Lulo berasal dari Suku Tolaki di Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara. Tari Malulo mencerminkan bahwa masyarakat Tolaki adalah masyarakat yang cinta damai dan mengutamakan persahabatan dan persatuan dalam menjalani kehidupan. Tari tradisional ini bisa ditarikan oleh laki-laki atau perempuan, remaja atau anak-anak, dengan formasi melingkar sambil berpegangan tangan serta diiringi dengan 2 gong yang berbeda ukuran dan jenis suara.
- Tari Dinggu
Tari Dinggu atau juga disebut dengan tari Modinggu adalah salah satu tari tradisional Suku Tolaki yang kemudian dikemas dalam kreasi baru, khususnya di daerah Kerajaan Mekongga. Tarian rakyat ini menjadi tarian yang energik dan ceria yang menggambarkan betapa semangatnya petani memanen padi berkat keberadaan Dewi Padi atau Dewi Sri (Sanggole Mbae). Tari Dinggu ditarikan oleh 10 atau lebih penari yang terdiri dari pria dan wanita dengan memakai kostum layaknya petani zaman dulu.
- Tari Lariangi
Tari Lariangi merupakan tari tradisional sebagai bentuk penghormatan dan apresiasi kepada para tamu. Pada umumnya tarian ini ditarikan oleh satu orang penari pria dan beberapa orang penari wanita. Namun, tidak semua orang bisa menarikan tari Lariangi ini, karena hanya gadis-gadis keturunan bangsawan saja yang dapat menarikannya. Oleh karena itu, tarian Lariangi dianggap sebagai tarian sakral.
- Tari Umo’ara
Tari Umo’ara dilakukan sebagai tarian untuk menyambut tamu penting atau tamu agung pada acara perkawinan atau pengantaran jenazah para bangsawan, serta juga dipertunjukan ketika berlangsungnya upacara pelantikan seorang raja. Tarian ini ditarikan oleh dua hingga tiga orang laki-laki dengan gerakan yang penuh semangat, melompat, berduel dengan saling menyerang satu sama lain, dan dihiasi dengan teriakan-teriakan keberanian.
- Tari Mowindahako
Bagi masyarakat Sulawesi Tenggara, tari Mowindahako disebut juga dengan tarian membesara yang hampir mirip dengan upacara adat perkawinan. Tari tradisional ini pun hanya boleh dilakukan oleh golongan bangsawan saja apabila suatu pinangan sudah diterima. Tari Mowindahako dilakukan sebagai wujud rasa senang dan kebahagiaan atas diterimanya pinangan tersebut.
- Tari Lumense
Tari Lumense merupakan tarian Suku Moroene di Pulau Kabaena, Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara. Lumense terdiri dari dua kata, yakni Lume yang berarrti terbang, dan mense yang berarti tinggi, sehingga bisa diartikan menjadi terbang tinggi. Tari Lumense biasanya dilakukan 12 orang penari wanita, di mana 6 orang akan berperan sebagai pria dan 6 orang lainnya akan tetap berperan sebagai wanita. Tarian tradisional ini pun biasanya dipertunjukan ketika menyambut tamu dalam pesta rakyat.
Sampai saat ini, ketujuh tari tradisional tersebut masih tetap dilakukan, walaupun ada perbedaan yang menyesuaikan zaman seperti sekarang ini.
Source:
silontong.com
berbol.co.id
blogkulo.com
anakdolan.com
seringjalan.com
hijriani.web.id
kompas.com